Monday, 10 October 2022

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 2.3 COACHING

 



MODEL DISCROLL

Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian.

What

Pada dwimingguan ini saya telah mempelajari Modul 2.3. Pembelajaran dimulai dari diri yang mana saya diminta untuk merefleksi kegiatan supervisi akademik yang pernah terjadi di sekolah yang biasanya dilakukan oleh kepala sekolah setiap semester 1 kali atau oleh pengawas satuan pendidikan/pengawas mata pelajaran dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga kabupaten Bangka. Dalam sesi ini saya menceritakan bagaiman supervisi itu dilakukan. Selanjutnya, saya memasuki kegiatan eksplorasi konsep yang saya pelajari adalah tentang Coaching. Konsep – konsep baru yang saya pahami diantaranya prinsip coaching, kompetensi coaching, video raktik coavhing disemua jenjang pendidikan baik luring maupun daring dan kegiatan supervisi klinis. Pada ruang kolaborasi saya dan teman CGP melalukan praktik coaching secara bergantian dalam peran sebagi Coach dan Coachee. Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya. Dengan latihan ini memperkuat pemahaman saya tenang coaching yang selama belum begitu saya kuasai. Pada tahap Demonstrasi Kontekstual, saya melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Praktik berlangsung secara informal untuk menggali potensi rekan sejawat sebagai coachee dalam menentukan komitmen diri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kegiatan ini sangat seru. Kami bak seorang artis yang melakukan syuting dalam memerankan sebuah scene menjadi coach, coachee dan pengamat. Secara bergantian saya, Lisa dan Sofia bergantian memerankannya. Kegiatan demonstrasi kontekstual ini saya lakukan secara luring sehingga lebih menantang dalam melakukan coaching. Pada tahap akhir, ada sesi elaborasi pemahaman yang semakin menguatkan pemahaman saya terkait praktik coaching. Beberapa di antaranya, yaitu Tut Wuri Handayani mindsetMindset ini menempatkan murid sebagai mitra belajar, mengandung kasih dan persaudaraan, bersifat emansipatif, dan merupakan ruang perjumpaan pribadi. Selain itu juga mendapat wawasan tentang paradigma pendampingan coaching sistem AMONG. Paradigma tersebut meliputi apresiasi, rencana, tulus, dan inkuiri.

So, What

Jujur ketika memasuki modul 2.3 itu saya kurang antusias. Saya merasa coaching sulit saya lakukan. Saya juga merasa saya akan menemukan banyak kendala dll ternyata setelah saya masuk ke sesi eksplorasi konsep midset saya berubah. Ketidakantusiasan saya terpatahkan. Saya merasa coaching adalah jawaban dari pengalaman – pengalaman yang pernah saya lakukan ketika ditugaskan oleh kepala seklah sebagai supervisor. Selama ini ketika saya jadi supervisor saya lebih fokus pada kekurangan. Saya sangat bahagia mempelajari Modul 2.3 ini. Saya merasa tergugah dengan paradigma – paradigma baru dalam menggali potensi seseorang murid saya. Jika selama ini supervisi akademik lebih kearah mencari kelemahan guru yang disupervisi, namun dengan coaching baik supervisor maupun guru yang disupervisi merasakan kesetaraan, fokus dalam memberdayakan potensi coachee. Sejalan dengan pemikiran KHD bagaimana seorang guru perlu meuntun tumbuh kembangnya kekuatan kodrat alam siswa tentu dalam menggalinya coaching menjadi cara yang bisa dilakukan.

Now What

Coaching tentu merupakan hal yang sangat baru bagi saya. Selama ini saya lebih sering mengenal mentoring, training, dan konseling.  Melakukan hal baru membutuhkan kekuatan dan kemampuan. Tidak terkecuali praktik coaching dalam komunitas sekolah. Hal baru adalah terkait penerapan coaching sebagai mindset dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya coaching sudah dilakukan, sehingga dengan perubahan mindset dapat menjadikan coaching sebagai pembiasaan. Pelaksanaan coaching dalam komunitas di sekolah tentu tidak bisa sendiri. Sebagai kegiatan yang kolaboratif, praktik coaching membutuhkan dukungan dari banyak pihak terutama sebgai coachee. Bagaiman saya dapat membuat rekan sejawat atau murid untuk coaching. Bentuk dukungan yang saya harapkan adalah adanya masukan terhadap praktik coaching yang saya lakukan. Selain itu, dukungan berupa komitmen dari rekan sejawat untuk terus terlibat dalam kegiatan coaching. Baik itu sebagai coachee maupun coach. Ini merupakan dukungan utama agar praktik coaching menjadi budaya positif dalam komunitas di sekolah. Dukungan dari pihak sekolah juga sangat dibutuhkan dalam bentuk izin menyelenggarakan coaching maupun penguatan terhadap komunitas yang ada. Selain itu, dukungan dari orang tua berupa peran aktif memberikan laporan terkait permasalahan anaknya selama belajar di rumah.

Rencana terdekat adalah lebih sering praktik melakukan coaching secara nyata baik dengan rekan sejawat maupun murid. Sedangkan hal baik yang bisa saya bagi kepada rekan sejawat di sekolah adalah bahwa praktik coaching ini sangat membantu guru dan murid dalam menyelesaikan masalah oleh dirinya sendiri berdasarkan potensi yang dimiliki. Selain itu, dengan adanya jadwal berbagi dalam komunitas praktisi akan membuat praktik coaching ini sebagai budaya positif di sekolah.

 


Wednesday, 21 September 2022

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

 



Seorang pendidik tugasnya tidak hanya memberikan pengajaran di kelas. Mengajarkan materi sesuai dengan program yang telah dirancang namun yang lebih utama bagaimana ia memberikan pendidikan yang bermakna yang dapat murid rasakan manfaatnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai individu di dalam keluarga dan masyarakat.

Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa kompetensi sosial emosional merupakan tanggung jawab guru mata pelajaran (tingkat SMP) saja. Saya juga berfikir bahwa seorang guru hanya fokus pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan saja. Rekan-rekan guru dan tenaga kependidikan serta murid tetapi tidak berefek langsung pada pembelajaran murid sehingga selama ini saya hanya menguatkan kompetensi sosial emosional diri saya pribadi saja dan memberitahu pada murid di saat belajar kaitannya dengan materi yang sedang dipelajari. Setelah mempelajari modul ini, ternyata pembelajaran sosial emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara berkolaboratif oleh seluruh warga sekolah. PSE menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah untuk menciptakan kesejahteraan sosial (well-being) yang dapat mendorong terciptanya pembelajaran yang aman dan nyaman, menyenangkan, berpihak pada murid (meningkatkan kompetensi akademis dan kesejahteraan psikologis murid). PSE juga dapat diimplementasikan melalui pengajaran eksplisit, terintegrasi dengan pembelajaran di kelas, penguatan budaya positif dan termuat di kurikulum akdemis. Penguatan KSE juga harus dilakukan oleh PTK melalui memebrikan keteladanan, belajar, dan berkolaborasi.

Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:

1)  Pembelajaran PSE dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh warga sekolah agar terwujud (well-being) dan komunitas belajar yang kuat untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional.

2)  Seluruh warga sekolah menerapkan 5 KSE yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

3)  PSE dan penguatan KSE dimulai dari diri sendiri sesuai dengan kerangka CASEL. Di kelas melalui pembelajaran secara eksplisit atau spesifik dan iklim kelas. Di sekolah melalui budaya, praktik, kebijakan sekolah, dan kurikulum akademik. Di keluarga melalui komunikasi dengan wali murid, dan komunitas melalui kesempatan belajar yang selaras.

Berkaitan dengan no 2, perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah:

  •        Bagi murid-murid:  Menguatkan KSE melalui pembelajaran eksplisit atau spesifik, terintegrasi dengan praktik mengajar guru/kurikum akademik, serta menguatkan praktik disiplin positif melalui penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah.
  •           Bagi rekan sejawat:  Menguatkan KSE dengan cara: 1) memberikan keteladanan sebagai pribadi yang matang melalui implementasi KSE pada diri sendiri dalam peran dan tugas, menciptakan budaya mengapresiasi, menunjukkan kepedulian; 2) belajar bersama rekan-rekan guru, membiasakan refleksi KSE pribadi, memahami tahapan perkembangan murid, mengembangkan pola pikir bertumbuh, berbagi praktik baik, dan meluangkan waktu untuk self-care; dan 3) berkolaborasi dengan cara membuat kesepakatan bersama, membuat komunitas belajar, membuat sistem monitoring rekan sejawat, dan megintegrasikan KSE dalam rapat bulanan serta dalam kegiatan kesiswaan.


Thursday, 15 September 2022

AKSI NYATA BERBAGI PRAKTIK BAIK BUDAYA POSITIF DI SMP MUHAMMADIYAH SUNGAILIAT

                 

                                                   

Kamis, 8 September 2022

Berbagi praktik baik menjadi pengalaman berharga bagi saya. Saya berbagi dan bertukar pikiran tentang pemahaman dan bagaimana membangun budaya positif di sekolah. Sebelumnya saya sering berbicara di depan rekan - rekan namun rasanya kegiatan ini memiliki tantangan tersendiri bagi saya. Saya masih gugup dan cemas. Apapun rintangan yang terjadi dapat diatasi dengan baik.

Kegiatan ini saya lakukan di kelas IXA bersama rekan sejawat baik pendidik maupun tenaga kependidikan setelah kegiatan pembelajaran usai. Meski sudah siang, mereka tetap semangat. Mereka juga antusias. 

Dalam kegiatam ini saya berbagi tentang 3 motivasi perilaku manusia, defini hukuman, konsekuensi, 5 kebutuhan dasar manusia, 5 posisi kontrol guru dengan menggunakan segitiga restitusi. 

Sebelum kegiatan ditutup, saya meminta rekan sejawat memberikan umpan balik dan refleksi. Selama sesi itu pula saya melihat dan merasakan apa yang mereka rasakan. Ada pula guru yang hingga sedih dengan apa yang telah mereka lakukan kepada murid yang selama ini belum memberikan yang terbaik. Kesadaran mereka pada 5 posisi kontrol dalam menghadapi kasus - kasus yang terjadi di sekolah yang belum optimal. Rata - rata kami masih serig berada di posisi kontrol 1 dan 2. Mereka sepakat ingin merubah paradigma dan menerapkan restitusi.

Tak lupa, saya juga mendorong rekan sejawat untuk mendaftar sebagai guru penggerak angktan 8,9,10. Semoga kita semua menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Budaya positif dapat terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan mereka menyakini nilai kebajikan didalamnya. Dalam penerapannya seorang pendidik tidak dapat menjalankannya sendiri namun perlu gotong royong. 

Tetap semangat


Friday, 9 September 2022

Koneksi Antar Materi Modul 2.1


                                                                                

Koneksi antar materi Modul 2.1 yaitu tentang kesimpulan apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas. Dan bagaimana pula pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu murid untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal. Lalu seperti apa keterkaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Apa pembelajaran berdiferensiasi?

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah pembelajaran yang dirancang oleh seorang guru yang menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan belajar masing – masing individu murid. Atau dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Bagaimana seorang guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi?

Ø  Menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar

Ø  Merumuskan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas

Ø  Melakukan penilaian berkelanjutan

Ø  Merespon kebutuhan belajar murid

Ø  Manajemen kelas yang efektif

Apa saja strategi Pembelajaran Berdiferensiasi?

  1. Diferensiasi Konten (strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian materi, pengetahuan dan keterampilan)
  2. Diferensiasi Proses (strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi konten)
  3. Diferensiasi Produk (strategi memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari)

Dalam menerapkan strategi tersebut, seorang guru dapat melakukan diagnostic kognitif atau non kognitif berupa wawancana, memberikan angket, observasi, melihat rapot sebelumnya dll. Kemudian barulah kita dapat memetakan kebutuhan belajar murid yang mencakup:

  • Kesiapan Belajar (kapasitas murid untuk mempelajari materi baru)
  • Minat Belajar (motivasi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran)
  • Profil Belajar (pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll.)

Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan Filosofi Pendidikan KHD. Filosofi Pembelajaran KHD menegaskan bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Hal ini selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi, dimana pembelajaran yang dilakukan atas dasar pemenuhan pada kebutuhan masing – masing individu murid sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Seorang guru menuntun tumbuh kembang individu murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiannya.

Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan nilai dan peran guru penggerak. Dalam memetakan dan memahami kebutuhan belajar murid guru yang memiliki nilai reflektif terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan bersama murid, inovatif membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, dan berkolaborasi dengan murid, rekan sejawat, dan orang tua murid. Guru juga mandiri dalam meningkat kemampuan untuk dapat menerapkan pembelajarn berdiferensiasi yang lebih optimal melalui pelatihan dan berbagi praktik baik dengan rekan guru lainnya.

Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan visi guru penggerak. Guru Penggerak memiliki visi untuk melakukan perubahan positif pada pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru dapat menggunakan strategi pendekatan Inquiry Apresiatif (IA) melalui tahapan BAGJA untuk mencapai visi tersebut.

Pembelajaran berdiferensiasi, kaitannya dengan budaya positif. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru dan warga sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk suasana lingkungan belajar yang positif. Disipilin positif akan membuat pembelajaran berdiferensiasi dapat berjalan lebih optimal.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.

Salam Guru Penggerak

Salam dan Bahagia.

 


Tuesday, 30 August 2022

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.4 Budaya Positif dengan Model 4C


Budaya positif dapat tercipta melalui kerjasama yang baik antar warga sekolah. Sejalan dengan itu sebagai calon guru penggerak saya berperan untuk berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah dalam menciptakan budaya positif di sekolah, menjadi pemimpin pembelajaran, berpihak kepada siswa dan mendorong perubahan kearah yang lebih baik. Melalui keteladanan budaya positif juga dapat diciptakan.

Selama mengikuti ruang kolaborasi bersama fasilitator bapak Muhari kemudian elaborasi pemahaman bersama instruktur bapak Reddison ada ide dan materi yang berbeda dengan yang jalankan selama ini. Sebagai guru selama ini saya beranggapan bahwa ketika murid tidak disiplin saya hanya dapat menyelesaikannya dengan memberi hukuman. Saya juga masih membentak siswa ketika mereka melakukan kesalahan yang sama secara berulang - ulang. Saya jadi sadar dan merasa sia - sia selama ini melakukan tindakan tersebut karena hukuman, marah, membentak dll tidak akan membuat murid menjadi disiplin. Tidak ada yang berubah dari mereka. Para murid hanya memiliki ketakutan dan tidak ada motivasi intrinsik yang timbul dari hukuman yang diberikan. 

Selama membaca modul dan diskusi modul 1.4 ini saya memahami konsep - konsep yang akan saya terapkan kedepannya dan sudah saya mulai dari diri sendiri saat ini seperti konsep budaya positif, keyakinan kelas/sekolah, paradigma belajar, kebutuhan dasar manusia, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol dan penerapan segitiga restitusi. Semua konsep sangat bermakna bagi saya. Sebagai pendidik saya selama ini berada di posisi kontrol sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, teman dan pemantau. 

Kedepannya saya ingin berada di posisi manager. Dalam menghadapi berbagai macam dan ragam peristiwa atau kasus yang terjadi disekolah. Semoga saya dapat konsisten melakukan perubahan ini. Selain itu juga saya ingin menganalisis masalah yang dihadapi siswa berdasarkan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi sehingga bisa diatasi dengan benar. Kemudian, berbagi praktik baik kepada rekan sejawat dalam aksi nyata.

Terimakasih
Salam dan Bahagia



Thursday, 25 August 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.4.a.8 Budaya Positif



Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarokaatuh.

Budaya positif merupakan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang berkarakter, unggul dan mandiri.

Dalam menciptakannya guru penggerak tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan adanya kerjasama dengan seluruh stakeholder yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah seperti Yayasan/Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Kepala Sekolah, rekan guru, komite, murid dan orang tua yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif. Penerapan budaya positif pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah sangat erat kaitannya dengan nilai – nilai kebajikan. Sebagai contoh  penerapan budaya positif ‘berpakaian’ akan menanamkan keseragaman dan tanggung jawab. Melalui pembiasaan itu murid dapat memakai baju sesuai jadwal yang ditentukan untuk keseragaman dan kesenjangan sosial.

Modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4 memiliki hubungan erat dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Budaya positif dilaksanakan sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat alam yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Menuntun tumbuh kembangnya atau hidupnya sesuai kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Oleh karena Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. 

Seorang guru layaknya seorang petani dalam menuntun murid untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi sesuai kodrat alamnya. Tujuan budaya positif yakni agar menjadi murid yang berprofil pelajar Pancasila (beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan berkebinekaan global). Dalam menyusun program budaya positif juga diperlukan kolaborasi dengan murid sperti penerapan kesepakatan kelas, keyakinan kelas, dan segitiga rstitusi. Murid diajak membuat suatu kesepakatan yang berpihak pada murid. Seorang guru penggerak  harus memiliki nilai dan peran guru penggerak dalam melaksanakan budaya positif di sekolah. Antara lain: mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.

Budaya positif juga bagian dari visi guru penggerak. Budaya positif dapat mewujudkan visi guru penggerak yang kedepannya akan menjadi visi sekolah impian. Yaitu "Mewujudkan Murid yang Berkarakter dan Unggul melalui merdeka belajar". Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan adanya kolaborasi kekuatan positif yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali impian, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi). Inkuiri Apresiatif adalah suatu pendekatan berbasis kekuatan positif yang dimiliki sekolah dan saling menguatkan untuk mewujudkan visi tersebut.

Dari sinilah, peran guru penggerak sangat penting sebagai penggerak kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah seperti ;

👉Menjadi teladan bagi murid dan guru lain.

👉Menjalin kolaborasi dengan rekan guru lain dan seluruh warga sekolah dalam melaksanakan       budaya positif

👉Menggerakkan komunitas praktisi yang ada di sekolah

👉Menjadi coach bagi guru lain serta mampu menjadi pemimpin dalam pembelajaran yang             berpihak pada murid

Guru penggerak dapat menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif di sekolah dan menjadi visi di sekolah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara:

1. Mulai dari diri sendiri dalam menumbuhkan budaya positif di kelas dan keteladan yang dapat      dicontoh oleh seluruh warga sekolah.

2. Mensosialisasikan budaya positif kepada Kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan dan      murid.

3. Kolaborasi dengan pihak terkait.

4. Lakukan perubahan secara konsisten, sabar, dan positive thinking terhadap penolakan gagasan dan pelanggaran.

5. Mefleksi setiap tindakan yang dilakukan.

Dalam menerapkan budaya positif seorang guru tidak perlu meyakiti siswa dengan hukuman. Ketika murid mengalami masalah kita sebaiknya mengambil posisi kontrol manager dengan menerapkan segitiga restitusi agar siswa dapat menyakini nilai kebajikan yang diyakini, memberikan kesempatan siswa mencari solusi yang dihadapinya.

Ini menjadi pengalaman baru saya. Pengalaman belajar modul 1.4 ini merubah paradigma saya dalam menangani masalah yang terjadi di sekolah. Selama ini saya masih berada pada posisi penghukum dan pemantau. Mari bergerak menuju guru yang lebih baik.

Selama mempelajari Modul 1.1 sampai 1.4 saya sangat antusias dan bersemangat. Mulai modul 1.1 yang membuat saya akhirnya sering melakukan ice breaking, belajar diluar kelas, belajar sambal bermain permainan daerah yang ternyata banyak siswa belum permainan tradisional ini. Modul 1.2 menguatkan nilai dan peran saya sebagai guru. Modul 1.3 bagaimana saya merancang visi dan Modul 1.4 merupakan modul dengan materi yang luar biasa. Materi yang menjawab segala tanyaku cara mengatasi kasus siswa di sekolahku. Saya juga ingin tahu akan ada hal baru apa lagi nanti,

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarokaatuh

Salam Guru Penggerak

Salam dan Bahagia


Sunday, 14 August 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.3.a.8

 




Assalamualaikum Warahmatullah Wabarokaatuh.

Salam Guru Penggerak

Salam dan Bahagia

Pada kesempatan kali ini, saya akan merefleksi dan mengaitkan pembelajaran pada Modul 1.1, 1.2 dan 1.3.

Dalam Modul 1.1 Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara bagaimana seorang guru dalam menuntun murid sesuai dengan kodrat alam dan zamanya.  Setiap murid memiliki keunikan masing - masing. Guru menuntun para siswa untuk dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Seorang gurumenghamba atau berpihak kepada murid. 

Modul 1.2 Nilai Guru Penggerak yakni berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif, dan reflektif. Nilai tersebut dapat dicerminkan dalam menjalankan perannya.  Keberpihakan dan penghambaan pada murid diperankan oleh seorang guru melalui menuntun tumbuh kembang untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. 

Pada Modul 1.3 Visi Guru Penggerak. Visi merupakan harapan atau cita - cita yang ingin dicapai oleh sekolah. Visi menjadi output sekolah. Dalam membuat visi kita harus berkolaborasi. Untuk mencapai visi tersebut kita dapat menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) melalui tahapan BAGJA

B = Buat pertanyaan utama

A = Ambil pelajaran

G = Gali mimpi

J = Jabarkan rencana

A = Atur eksekusi

Setelah berdiskusi di ruang Kolaborasi bersama teman dan fasilitator serta di Elaborasi Pemahaman maka saya merevisi visi saya.

Visi Sekolah Impian:

"Mewujudkan Murid yang Berkarakter dan Unggul melalui merdeka belajar"

Sekolahku Surgaku

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarokaatuh.






Logo SMP Muhammadiyah Sungailiat

 Logo Terbaru SMP Muhammadiyah Sungailiat