Bismillah
Yang Mau filenya silahkan klik di bawah ini 👇
Sungailiat, 6 Desember 2022
Waktu terasa semakin berlalu, tiba dipenghujung Pendidikan Guru Penggerak
Angkatan 5. Sulit dipercaya semua terlewati langkah demi langkah. Alhamdulillah
November 2021, ada seorang teman yang baru saja sama – sama menyelesaikan
PPG dari Universitas yang sama Dewana namanya ia berkata, ‘Yuk, ayo kita daftar
Pendidikan Guru Penggerak !’. ‘Guru Penggerak ?’ tanyaku. ‘Iya Guru
Penggerak. Belajar lagi kita ayo lah daftar udah buka sekarang untuk Kabupaten
Bangka’ tambahnya. ‘Judulnya aja
Penggerak berarti nanti menggerakkan dong ya, heemmmm ga deh’ gumamku. Seminggu
berlalu tanpa ada niat untuk daftar. Tiba – tiba di grup WhatsApp ramai sekali
pemberitahuan tentang pendaftaran Guru Penggerak Angkatan 5 akhirnya mencoba
membaca sekilas syarat dll. Kemudian ada teman lain lagi Annisa yang juga rekan
satu pendidikan berkata, ‘Yuk, ayo kita daftar Guru Penggerak, lah buka
ni’. ‘Ehm belum pengen daftar kayaknya Nis, masih capek
dari yang pendidikan kemarin. Mau istirahat dulu heheh’ jawabku. Namun
sembari jalan pulang dari kerja saya berfikir mereka itu semangat sekali ya mau
ikut Guru Penggerak. Mereka itu luar biasa semangatnya terlihat dari banyaknya
sertifikat yang mereka miliki ketika UKIN. Mereka sangat rajin sekali ikut
pelatihan secara mandiri. Apa aku ikut juga yaa ??? (Mulai tertarik dan
termotivasi).
Seminggu sebelum batas waktu penutupan pendaftaran, aku memberanikan diri
membuka Portal SIMPKB kemudian menuju menu Guru Penggerak lalu Login. Setelah itu ada pengumuman pendaftaran. Tanpa berfikir panjang klik daftar.
Kemudian mengisi biodata dll. Disana diminta menambahkan rekomendasi kepala
sekolah dan rekan sejawat dan persyaratan lainnya. Ku ikuti semua alur semua berjalan lancar. 2 hari menjelaang penutupan aku
baru akan mengisi esai. Semua ku jawab berdasarkan pengelaman yang selama ini
dilakukan dan dirasakan. Alhasil di menit terakhir belum selesai
jawabanku. Pasrah dengan keadaan meski sebenarnya sedikit kecewa karena merasa
sia – sia dengan usaha yang dilakukan tapi ikhlas. Fix sejak saat itu tidak
membuka Guru Penggerak. Tak disangka ada surat pemberitahuan perpanjangan 1
minggu untuk pendaftaran. Ada lagi semangat untuk menyelesaikannya itupun
selesai di last minute lagi (23:50) sebelum due date. Hingga
pengumuman dinyatakan lulus. Kemudian lanjut dengan membuat RPP dan
mengungggahnya kemudian prakrik mengajar dengan durasi 10 menit. Semua berjalan lancar. Hingga tiba jadwal wawancara saya bertemu dengan 2
asesor yang luar biasa dari LPMP Aceh dan Surabaya. Saya gugup namun tetap
tenang. Semua pertanyaan dijawab sesuai yang dialami. Apapun hasilnya terima. 2
Bulan kemudian ada pengumuan kelulusan tahap 2 di grup sangat ramai ada
mengucapkan selamat dll tapi aku justru sedih ketika melihat namaku Qodarullah
dinyatakan Lulus. Sedih karena harus berbagi waktu untuk mengurus keluarga,
pekerjaan dan pengembangan diri namun disisi lain bersyukur. Alhamdulillah. Yang membuat tetap bertahan dan semangat adalah dukungan
keluarga, teman dan sekolah.
Mei 2022 ku mulai perjalanan PPGP. Dimulai dari Pembukaan oleh Dirjen GTK
secara daring. Di Ruang Kolaborasi saya bertemu teman –
teman yang luar biasa (Kelas 37B) dengan seorang Fasilitator bernama Muhari.
Beliau sangat baik, ramah, sederhana dan menginspirasi. Setelah itu saya
mengikuti Lokakarya O di Pangkal Pinang. Banyak dari CGP lain yang bahkan sudah
tau dan kenal dengan Pengajar Praktiknya. Sementara aku belum tau siapa PP
saya. Bahkan ketika acara pembukaan Loka O dimulai saya sibuk mencari dan menerka
inilah PP saya? Namun bukan nampaknya. Ada PP yang mendampingi kami berjumlah
6. 5 dari 6 itu saya sudah tidak asing lagi. Nah PP saya ini yang mana bahkan
ia tak bergabung dengan rekan PP lainnya (semakin penasaran). Tepat pukul 07.00
tiba saya masuk di kelas sesuai PP. Akhirnya saya tau ooh ini PP saya bapak
Selamat P. Simbolon berpakain batik dan memakai kaca mata. Ia terlihat
menghitung dan mengenal CGP nya. Pertemuan yang luar biasa.
Lanjut, berawal dari Rukol 1.1 sampai 3.3 dan segala alur MERDEKAnya kami
saling mengenal, berbagi paktik baik, saling menguatkan, saling mensupport,
momen – momen itu menjadi kenangan yang tak akan terlupa. Banyak cerita inspiratif dan memotivasi. Selain bertemu dalam Ruang Virtual
ada juga Pendampingan Individu dan Lokarya disini lah kami bertatap muka yang
semakin mengenal satu sama lain. Mereka adalah teman baru sekaligus keluarga
baru dan komunitas baru yang berasal dari lintas mata pelajaran, tingkat
pendidikan, dan kecamatan serta bertemu dengan Pengajar Praktik yang luar biasa
dan menginspirasi.
Bagaimana perasaan saya setelah melewati proses PPGP ini mesti belum
selesai secara utuh? Jawabannya bersyukur. Besyukur berada di Pendidikan ini.
Bersyukur dipertemukan dengan rekan sejawat yang sama – sama ingin belajar.
Bersyukur dipertemukan dengan PP yang sngat sabar mendampingi dan menguatkan
disaat rasa penat dan jenuh tiba – tiba muncul. Bersyukur dipertemukan dengan
Fasilitator yang selalu ceria dan memotivasi kami untuk menjadi agen – agen
perubahan di sekolah kami masing – masing. Bersyukur dipertemukan orang – orang
baik termasuk BGP Jawa Tengah dan BGP Bangka Belitung.
Banyak perlajaran berharga yang saya dapatkan yang tidak saya peroleh di
Program manapun. Jujur ikut program ini bukan untuk menjadi kepala sekolah.
Saya mengikuti Pendidikan ini karena saya butuh penyegaran dan butuh belajar.
Mulai dari Modul 1.1 hingga 3.3 saya seperti belajar parenting tak hanya untuk
murid di sekolah tapi juga anak – anak di rumah. Semua materi tersusun dengan
baik dan berurutan semua mengesankan.
PPGP boleh saja usai, namun ini justru menjadi awal mula mempraktikkan
semua teori yang telah didapatkan. Lakukan sekarang. Lakukan perubahan sekecil
apapun dikelas anda mulai saat ini. Kedepannya saya juga ingin terus berbagi
praktik baik dengan rekan sejawat di sekolah, berkolaborasi dengan murid dan
seluruh warga sekolah. Semua lelah terbayar dengan ilmu yang diperoleh.
Pada akhirnya tujuan pendidikan ialah menuntun segala kodrat yang
dimiliki untuk mencapai kebahagian dan keselamatan sebagai manusia maupun dalam
masyarakat.
Terimakasih kepada semua pihak yang terlibat. (BGP, Fasilitator, Instruktur, PP, Penulis Modul, Kemdikbudristek)
Terimakasih Keluarga besar.
Terimakasih Kepala Sekolah, Guru, Tendik, Murid dan Orang Tua/Wali Murid SPEMMUH
Terimakasih Dewana dan Annisa.
Tergerak, Bergerak, Menggerakkan
Guru Bergerak Indonesia Maju
Ayo segera daftar Pendidikan Guru Penggerak
Salam Guru Penggerak
Salam dan Bahagia
Fasilitator :
Muhari S.Pd., M.Pd
Pengajar Praktik :
Selamat P. Simbolon, S.Pd
CGP Kelas 37b : Yeni,
Mila, Dwi, Sofia, Nuryani, Ummi, Winni, Lisa, Ani dan Reny
CGP Angkatan 5 Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2022
21 November 2022
Pada minggu ini saya mempelajari Modul 3.3
Pengelolaan program yang berdampak positif bagi murid. Pembelajaran bermula dari mulai diri. Pada kegiatan ini saya mengingat
program sekolah bermakna yang pernah diikuti saat masih sekolah, peran saya dalam
program tersebut dan alasan mengapa bermakna. Dengan menjawab pertanyaan – pertanyaan itu jadi flashback
waktu SMA. Kemudian melakukan diskusi dengan rekan sejawat di LMS. Pada
eksplorasi konsep saya membaca beberapa program yang yang dinarasikan. Program – programnya sangat menginspirasi
mulai dari topik literasi, perduli lingkungan, kegiatan intrakurikuler dll. Di
ruang kolaborasi saya dan rekan CGP lain berdiskusi dan mempresentasikan hasil
diskusi tentang sebuah program yang berdampak positif bagi murid. Program yang kami sepakati adalah Filed
Trip. Kegiatan ini merupakan kegiatan kokurikuler untuk menguatkan hasil
pembelajaran yang dilakukan di kelas. Kegiatan ini merupakan kolaborasi semua
mata pelajaran. Di demonstrasi kontekstual, saya merancang sebuah program yang
saya beri nama ‘BTS’ (Bawa Tempat Sendiri). BTS adalah upaya untuk mengurangi
sampah plastik, botol, kertas dan gelas pop mie. Setelah 1 minggu kegiatan saya
sosialisasikan ke kepala sekolah, dewan guru dan staff dalam rapat bulanan
serta mensosialisasikan ke murid pada saat menjadi pembina upacara dan setelah
shalat dzuhur berjamaah al hasil sampah mulai berkurang. Saya banyak
mendapatkan dukungan dari rekan sejawat meskipun tetap pro dan kontra. Optimis
berhasil. Di elaborasi
pemahaman saya bertatap maya dengan instruktur luar biasa karena beliau juga
merupakan salah satu penulis Modul 3.3. Selama mengikuti sesi ini saya
mendapatkan banyak highlight yang bisa saya terapkan si sekolah nantinya.
Jujur, saya sangat antusias dan selalu
penasaran what’s next meskipun ini adalah modul terakhir di PPGP ini. 10 Modul
itu berlalu begitu cepat tapi saya masih haus praktik – pratik baik dari penerapan
10 modul ini. Saya
menerapkan aksi nyata untuk modul 3.3 ini saya sempat khawatir dan juga melatih
mental saya. Karena tidak semua siap dengan perubahan ini. Ada yang mengeluh karena
repot harus membawa ini itu, namun ada pula orang tua yang sangat mendukung
bahwa sebelum proggram BTS ini diterapkan. Kebiasaan itu menjadi kebutuhan bagi
mereka. Harapannya seluruh warga sekolah dapat tumbuh kesdaran dirinya untuk peduli
lingkungan sekolah. Jika sekolah bersih, nyaman dan aman maka proses
pembelajaran akan lebih baik dan fokus.
Ada banyak pelajaran berharga selama mempelajari Modul ini. Saya
menyadari bahwa program di sekolah itu dirancang berdasarkan suara, pilihan, dan
kepemilikan. Suara, pilihan dan kepemilikan siapa? Jawabnya ‘murid’. Murid
adalah aktor utama dalam keberhasilan dan kebermaknaan program BTS ini. Namun
sebagai orang dewasa (guru) kita dapat memfasilitasi dan menyalurkan setiap suara,
pilihan dan kepemilikan murid secara maksimal sekaligus sebagai penanggung
jawab program. Hal baru yang saya ketahui adalah bahwa jangan coba – coba membuat
program asal – asalan, mendadak, tidak jelas, tidak terstruktur dan tidak
mendengarkan suara murid, memberikan murid pilihan dan izin publikasi atas
karya murid.
Dengan berakhirnya modul 3.3 maka berakhir pula kegiatan syncronouos
di LMS. Berakhir adalah awal gerbang praktik bagi saya. Pemahaman baru ini akan
saya bagikan dengan rekan sejawat di sekolah baik melalui media sosial maupun
secara langsung. Kedepannya semoga saya bisa lebih baik dalma menyusun
program yang berdampak positif bagi murid. Setelah peristiwa ini yang paling
penting menurut saya adalah kosistensi sebagai agen perubahan. Komitmen dengan kesepatan
yang dibuat sendiri. Saya juga berharap bisa mengajak teman – teman lain mengikuti
PPGP yang luar biasa.
Sampai bertemu di program lain.
Salam Guru Penggerak
Salam dan Bahagia

Assalamualaikum Warahmatullah
Wabarokaatuh.
Momen terakhir menulis
koneksi antar materi di Modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak positif
bagi murid dalam program pendidikan guru penggerak.
Setelah mempelajari
Modul 3.3, saya mendapatkan pembelajaran baru bagiamana mengelolaan program
yang memberikan dampak positif bagi murid. Program yang dirancang hendaknya
mencakup 3 aspek yaitu suara (voice), pilihan (voice) dan
kepemilikan (ownership). Program yang berdampak positif merupakan
program yang dapat mendorong kebermaknaan proses pembelajaran yang terdapat
dalam program yang dikelola sekolah baik program kegiatan intrakurikuler,
ko-kurikuler maupun ekstarkurikuler. Program yang berdampak positif perancanganya
perlu melibatkan murid sehingga dampaknya dapat dirasakan untuk waktu yang lama
atau bahkan seumur hidupnya. Murid akan merasakan manfaat dari hasil
pembelajaran yang dilakukan.
Selama mempelajari
Modul 3.3 saya merasa bersyukur mendapatkan pemahaman baru. Saya juga antusias
mengikuti setiap alur MERDEKA di LMS. Saya merasa bingung juga ketika akan
mendemontrasikan program yang berdampak positif di sekolah melalui tahapan
BAGJA dengan memaksimalkan aset di sekolah serta suara, pilhan dan kepemilikan.
Saya harus kreatif dan berkolaborasi dalam menentukan program tersebut.
Hal yang sudah baik adalah
saya akhirnya mampu merancang dan mengelola sebuah program yang berdampak untuk
murid. Program itu adalah BTS (Bawa Tempat Sendiri). Sebuah program
peduli llingkungan, mengingat kesadaran murid pada lingkungan masih sangat
rendah. Program ini saya rancang setelah berdiskusi dengan murid – murid
disemua kelas. Saya juga melakukan diskusi dengan kepala sekolah dan rekan
sejawat. Sebelum mempelajari Modul 3.3 saya terlibat aktif hampir pada semua
program yang ada di sekolah. Maka setelah ini saya akan semakin aktif dan
menerapkan apa yang telah didapatkan selama PPGP ini. Banyak program yang dikelola
sekolah namun perlu di berdayakan secara maksimal.
Keaktifan saya
mengikuti semua program di sekolah saja ternyata tidak cukup. Saya perlu
meningkatkan kolaborasi dan komunikasi dengan komunitas sekolah dalam
perancangan sebuah program. Saya masih perlu melakukan pendekatan dengan pihak
terkait. Tak mudah memang, namun saya optimis mampu. Bersabar dan coba lagi
untuk menumbuhkan daya lenting saya pribadi.
Pendidikan Guru
Penggerak ini membawa dampak positif bagi saya. Paradigma saya mulai bergeser
dari yang awalnya ketakutan karena program ini prospeknya menjadi kepala satuan
pendidikan, sementara motivasi saya mengikuti program ini untuk belajar dan memperbaharui
ilmu – ilmu guna perbaikan proses dan hasil pembelajaran. Kini, setelah 6 bulan
berlalu, saya beruntung dan bersyukur dapat mengikuti pendidikan ini. Pendidikan
ini bukan hanya untuk murid di sekolah tapi jujur saya juga belajar parenting.
Kodrat saya menjadi guru semakin ditebalkna melalui pendidikan. Kamatangan diri
ini semoga bisa konsisten saya lakukan.
Selama pendidikan ini
saya telah mempelajari 10 Modul dan Modul ini merupakan modul terakhir. Insight
baru ketika membaca filosofi KHD di modul 1.1 saya tertegun, bagaimana tidak
setelah 11 tahun menjadi guru rasanya saya belum maksimal dalam menuntun murid
untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaanya. Saya lebih sering menuntut mereka.
Pengelolaan yang berdampak positif dapat memberikan ruang bagi murid untuk mendorong
student’s agency. Saya semakin menyadari apa nilai dan peran saya sebagai
guru dapat diberdayakan dalam kegiatan – kegiatan yang rancang. Nalai dan peran
guru ebremanfaat untuk menyusun dan mengelola yang berdampak pada murid. Visi
guru jelas dapat menciptakan ekosistem sekolah yang berpihak pada murid. Untuk
mencapai prakarsa perubahan dapat menggunakan alur BAGJA. Pengelolaan program
yang berdampak positi bagi murid diharapkan dapat mewujudkan budaya pisitif di
sekolah Pengelolaan program yang berdampak positif bagi murid tidak terlepas
dari apa yang menjadi kebutuhan murid meliputi kesiapan belajar, minat belajar
dan profil belajar murid. Keberagaman murid menjadi tantangan dalam pengelolaan
program yang dapat memenuhi kebutuhan belajar murid secara invidu. Pengelolaan
program perlu menerapkan keterampilan sosial dan emosional agar murid memiliki
kesadaran penuh (mindfullness) untuk mencapai kesejahteraan dirinya (well-being)
meraka tetap fokus, tenang, berempati, termotivasi dan bertanggung jawab atas
pilihannya. Coaching dapat diterapkan guru untuk menggali potensi murid
sehingga murid dapat menyelesaikan masalahnya sendiri ketika ada permasalahan
pada program yang dipilih. Sebagai pemimpin kita perlu mengambil keputusan dengan
bijaksana untuk menentukan program yang berdampak positif. Keptusan yang diambil
melalui 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan dan pengujian.
Program yang akan dikelola juga perlu memberdayakan 7 aset (manusia, fisik, sosial,
finansial, politik, lingkungan/alam, Agama/budaya) yang dimiliki sekolah secara
maksimal yang berfokus pada kekuatan.
Sebagai penutup, terimakasih
kepada semua pihak yang terlibat dalam pendidikan ini. Pemahaman baru ini akan dipraktikkan
di sekolah tempat saya belajar dari murid – murid hebat. Menjadi pemimpin
pembelajaran yang selalu dinantikan kehadirannya.
Sebaik – baik manusia
adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semoga kehadiran kita membersamai
keberhasilan murid – murid sebagai genarasi penerus bangsa dan aset bangsa.
Salam Guru Penggerak
Salam dan Bahagia
Wassalamualaikum
Warhamatullah Wabarokatuh
Model 6: Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing (5R)
Pada tangggal 24 - 25 Oktober 2022 saya
mulai dari diri dan eksplorasi konsep pada Modul 3.2 tentang pemimpin dalam
pengelolaan sumber daya. Saya merefleksi bagaimana pengelolaan sumber daya yang
ada disekolah melalui 8 pertanyaan pemantik. Selama mempelajari modul ini saya memahami
maksud dari ekosistem sekolah. Sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara
faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Unsur – unsur
biotik (Guru, murid, kepala sekolah, staff TU, orang tua, Pengawas sekolah,
Dinas Pendidikan, Pemda, masyarakat sekitar, dan dinas terkait) dan abiotik
(Keunagan, Sarpras dan Lingkungan alam). Kemudian, ada 7 aset/modal sumber daya:
manusia, fisik, sosial, politik, agama/budaya, lingkungan alam, dan finansial. Selanjutnya,
saya berdikusi dengan teman dalam kelompok di ruang kolaborasi. Saya berada di
kelompok 1 yang mendikusikan pemanfaat aset/modal di kota Sungailiat kabupaten
Bangka. Aset/modal yang dimiliki daerah sangat banyak sehingga perlu
keterampilan pemimpin dalam mengelola aset tersebut untuk pembelajaran yang
berpihak pada murid. Pada demonstrasi kontekstual saya mengalisis sebuah video
yang ditautkan di LMS. Saya melihat bagaimana seorang guru dapat mengelola aset
di sekolah dengan baik bersama murid melalui tahapan BAGJA. Hasil analisis
tersebut kemudian saya sajikan dalam bentuk video dan di unggah di YouTube. Untuk
memantapkan pemahaman saya mengikuti sesi Elaborasi Pemahaman bersama rekan CGP
Bangka Belitung dengan instruktur yang luar biasa ibu Desi Andriani. Praktik
baik yang beliau sampaikan sesuai dengan karakter sekolah saya. Saya semakin
paham bagaimana pengelolaan sumber daya di sekolah. Praktik baik juga saya
dapatkan dari rekan CGP lain. Selanjutnya, saya mengkoneksikan seluruh
pemahaman saya tentang Modul 3.2 dengan modul sebelumnya yang ternyata semuanya
memiliki kaitan erat yang pada akhirnya semua untuk murid agar dapat belajar
dengan aman, nyaman dan bahagia.
Selama mempelajari modul 3.2 saya sangat antusias dan tertantang dalam mengelola aset/modal sekolah. Kurang maksimalnya saya dalam mengelola dan memanfaatkan aset untuk pembelajaran di kelas maupun diluar kelas mungkin selama ini menjadi faktor kurang nyaman dan bahagianya murid mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tentunya ini menjadi tantangan bagi saya agar dapat mengelola aset dengan maksimal.
Setelah mempelajari modul ini, memahami pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah dengan menggunakan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset- Aset Based Community Development/ ABCD), memahami potensi sumber daya yang dimiliki lingkungan sekolah serta mengevaluasi hasil pemetaan sumber daya sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran murid.
Peristiwa kurang nyaman, aman dan bahagia pada murid atau guru terhadap sarpras harusnya dapat diatasi dengan melakukan pendekatan berbasis aset karena sekolah memiliki aset yang cukup untuk dikelola. Jika selama ini saya sering mengeluh dab berfokus pada kekurangan maka saya perlu merubah paradigma saya.
Rencana untuk perbaikan yang ingin saya lakukan di masa mendatang, diantaranya:
Sumber daya yang telahdipetakan dapat digunakan oleh sekolah untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Baik modal manusia, sosial, politik, agama dan budaya, fisik, lingkungan/ alam, maupun finansial. Semua asset dimanfaatkan secara optimal agar dapat mendukung secara penuh terciptanya hasil belajar yang lebih baik.
Salam Guru Penggerak
Salam dan Bahagia
Jurnal
Refleksi Dwimingguan Modul 3.1
Model 9 Gaya Round Robin
Pada modul 3.1 ini saya mempelajari tentang
pengambilan keputusan sebagai pemimpin. Saya mulai dari diri, ekplorasi konsep,
ruang kolaborasi, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, Koneksi antar
materi dan aksi nyata.
Setelah mempelajari modul ini, saya menguasai tentang empat
paradigma dilema etika. Keempatnya yaitu: 1. Individu lawan kelompok (individual
vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan
jangka panjang (short term vs long term).
Saya juga menguasai tentang 3 prinsip pengambilan
keputusan. Ketiga prinsip itu adalah 1. berpikir berbasis peraturan
(Rule-Based Thinking) 2. berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) 3.
berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Saya dapat menguasai materi tersebut karena saya dari
awal pembelajaran sangat antusias dan tertarik pada materi ini meskipun saya
banyak menghayal sebagai pemimpin pembelajaran/kepala sekolah dalam menjawab
beberapa pertanyaan. Kemudian kasus dilema etika dan bujukan moral itu sendiri
sering dan nyata ada di sekolah. Hampir setiap hari saya dihadapkan pada kasus – kasus dilema
etika terutama dikelas. Oleh karenanya dengan mempelajari modul ini saya
semakin paham pada jenis kasus dilema etika atau bujukan moral. Saya mengerti
bagaimana mengidentifikasi kasus dilema etika. Ditambah lagi pada kegiatan ruang
kolaborasi dalam kelompok, kami menyepakati bahwa kasus yang saya alami untuk
dianalisis dan itu menarik sehingga saya bisa menentukan pengambilan keputusan
yang tepat. Saya juga semakin paham ketika adanya penguatan dari fasilitator
dan instruktur pada elaboasi pemahaman.
Hal yang belum saya kuasai setelah mempelajari modul ini
adalah 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Hal itu karena saya perlu mengkaji
dan menelah sebaik – baiknya dalam mengambil keputusan. Bgaian yang sulit itu
adalah mengambil keputusan yang bijaksana, nilai kebajikan universal, bertanggung
jawab dan berpihak pada murid. Tentu tidak mudah menentukan keputusan dilema
etika namun apapun itu sebagai pemimpin pembelajaran saya harus tetap mengambil
keputusan meskipun banyak tantangan yang dihadapi.
Saya perlu belajar melatih keterampilan mengambil keputusan
pada kasus dilema etika. Selanjutnya saya ingin mengajak rekan sejawat untuk mensosialisasikan
terkait 9 langkah pengujian pengambilan keputusan sehingga semua warga sekolah
mendapatkan pengetahuan terkait 9 langkah pengujian pengambilan keputusan dan
bersama-sama menerapkan dalam keseharian.
Melalui
alur MERDEKA yang di design dengan baik sehingga sejauh ini tidak ada yang
menjadikan kebingungan. Semuanya cukup jelas. Ada keterkaitan antara setiap
aktivitas pembelajaran yang dilakukan dan saling menguatkan satu sama lain
sehingga menambahkan pemahaman dan pedalaman materi modul pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran. Semangat memberikan perubahan terhadap ekosistem
pendidikan yang berpihak kepada peserta didik.
Bismillah Yang Mau filenya silahkan klik di bawah ini 👇 SAOL ULANGAN BAHASA INGGRIS KELAS 6 BAB 1